sejenak biarkan tangan ini berbicara

Sebelum dapat metatap matahari di sudut sempit kumuh ini, sempat pernah mendengar bagaiman begitu keras perjuangan Pahlawan-pahlawan. Dengan gagah berani mempertaruhkan seluruh jiwa raga dan bahkan keluarga, maju ke medan tempur, menunjukkan jati diri Indonesia. Bertempur dengan kebersamaan, kerjasama, dan kepintaran dalam kesederhanaan, dengan alat tempur seadanya. Dari sabang sampai merauke bersatu padu melebarkan sayap garuda menghentak sang Pengemis harta di bumi pertiwi yang tercinta.

Begitu kelam hari-hari itu, hujan air diiringi hujan api dan tangis kehilangan. Namun Indonesia tak bergeming, karena kuat keinginan tuk membuka awan gelap di langit yang selama bertahun-tahun menyelimuti tanah sang garuda, kuat tekat tuk menjemput mentari tuk menerangi tanah air bumi pertiwi ini, mengusir racun-racun yang menyerang nafas sang Garuda. Dan akhirnya dengan kekuatan pahlawan-pahlawan dan kekuatan ilahi, Indonesia mampu membawa matahari hadir di bumi pertiwi ini. Sayap sang garuda terbentang di angkasa, teriakkan sang garudaku menggema keseluruh penjuru dunia.

      Namun apa yang terlihat kini? Perlahan dengan pasti semua itu hanyalah menjadi masa lalu tertinggal, bahkan semua memori bersejarah itu hanyalah sebuah menjadi pelajaran di sekolah-sekolah tanpa terpelajari, dan hanya menjadi sebuah cerita yang di ceritakan bagaikan dongeng ketika hendak tidur, tiada membekas diingatan sedikitpun, ketika mata terbuka semua cerita hilang terbawa mimpi. Ideology-ideology pembangun persatuan hanyalah lambang perpecahan, Banteng, Pohon Beringin, dan tiga nama lainnya seakan ingin lepas dari kalung sang Garuda. Demi sesuap nasi tali pengikat raga hilang tak bernilai. Golongan-golongan seperti musuh bagi golongan lain, bersatu padu membangun kekuatan untuk menghancurkan yang lain meskipun terikat dalam satu bahasa. Sumpah 28 Oktober seakan-akan kini hanyalah aungan ayam di pagi hari yang tak membuat mata terbuka untuk bangun dari terlelapnya jiwa yang mati, kata-kata sakti tak pernah tertancap dalam hati.Generasimuda Indonesia saatinisepertikehilanganjatidiri.Melangkah tanpa arah, sepertikehilanganpeganganhidup. so“kapan Indonesia akanbenar-benar merdeka jika generasi mudanya terus memenjarakan diri, kapanseluruhrakyat Indonesia akan merasakan kemerdekaan itu jika semua tak mencoba memperbaiki keadaanini Kemanakah Indonesia yang dulu? apakah sang Garuda sedang tertidur lelap? Kemana Indonesia yang dibangun dengan persatuan itu?

Kemerdekaan Indonesia yang ke 66 berwarna malam lailatul Qadar

Tak terasa ternyata Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun, mungkin karena waktu semakin cepat berjalan dan begitu saja berlalu. Hmmm……atau apa Indonesia belum benar-benar dengan sepenuhnya merdeka? Tak tau lah. Tapi yang pasti masih banyak perbaikan yang harus di perbaiki di Indonesia ini, masih banyak jalan-jalan lurus yang terbengkokan oleh pemandai besi yang terlalu pandai memainkan bara api. Kemerdekaan terlihat hanya di rasa oleh sebagian orang saja. Kemerdekaan ini harusnya tidak hanya dirasakan oleh yang punya Tangan, tapi dirasakan juga oleh
yang memberi tangan. Tapi yang Punya Tangan sepertinya tak melihat bahwa yang Pemberi Tangan sedang terluka dalam kehidupannya.

Indonesia dulu mengawali kemerdekaannya dengan berpegang teguh pada kaidah-kaidah dan hukum-hukum dalam Al-Qur’an, sehingga terbentuk Pancasila, dan badan-badan legislative seperti MPR, DPR, MA, dll. Dan setiap pelantikan jabatan untuk menjadi wakil rakyat di lantik dengan bersumpah atas nama Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah aturan-aturan Allah swt. Dan merupakan pedoman hidup ummat muslim dan seluruh ummat manusia di dunia untuk menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan Al-Qur’an adalah kiblat yang sesungguh nya dalam setiap shalat yang sering kita kerjakan, terutama yang 5 waktu. Namun kini sumpah yang dilakukan itu seperti dianggap hanyalah sumpah saja. Padahal sumpah itu harus dipertanggung jawabkan kepada rakyat dan kepada Allah swt Hati sedikit kecewa dengan penggerak-penggerak yang harusnya membawa Indonesia dengan usaha yang benar kearah kemerdekaan yang sesungguhnya, namun sebaliknya yang dilakukannya. Namun, Meskipun demikian rumitnya keadaan Indonesia, tetap ada kebanggaan dihati untuk Indonesia dan penggerak yang benar-benar mencoba menggerakkan kearah kemerdekaan yang sebenarnya.

Di hari kemerdekaan kali ini terasa begitu sangat special karena hari kemerdekaan tahun ini, kemerdekaan yang ke-66 ini di warnai balutan malam Lailatul Qadar tepatnya tanggal 17 Ramadhan.Dan dulupadasaatpertama kali Indonesia Merdekapadatanggal 17 Agustus 1945, pada saat itu jatuh pada tanggal 10 Ramadhan, tujuh hari lagi menuju malam lailatul Qadar. Dimana malam lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur’an (malam Nujulul Qur’an). Malam penuh berkah yang berlimpah di bulan yang penuh berkah. 17 Agustus 2011 di dalam 17 Ramadhan 1432 Hijriah yang semoga merupakan pertanda kemerdekaan Indonesia yang sesungguahnya, dan benar-benar di rasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Semoga malam seribu bulan ini memberi 1000 keindahan untuk Indonesia, semakin mendekatkan rakyat Indonesia dengan Al-Qur’an dan membangunkan sang Garuda yang tlah terlalu lama tertidur.

Hari kemerdekaan yang begitu indah di bulan ramadhan yang indah, dan bermandikan cahaya malam Lailatul Qadar. Memberikan cahaya indah di hari kemenangan bangsa Indonesia ini. Lailatul Qadar 1432 Hijriah tlah di pertemukan dengan ulang tahun RI ke-66. Apakah ini hanyalah kebetulan semata? Apakah semua ini tak bermakna? Akankah malam Lailatul Qadar ini menjadi air yang mampu menghilangkan dahaga rakyat Indonesia ? Jawablah dengan hatimu. Tetap berkibarlah sang saka merah putih di atas langit sana. Warnai semangat di bumi pertiwi dengan merahmu, sucikan langkah-langkah dengan putihmu.

 Mohon maaf jika ada kesalahan.