Tags

  1. 1.       Ketentuan awal dan akhir Ramadhan

Untuk mengetahui awal dan akhir Ramadhan harus memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut.

a)      Melihat bulan Ramadhan setelah terbenam matahari pada tanggal 29 (akhir) Sya’ban.

b)      Penetapan Hakim Syar’i berdasarkan saksi sekurang-kurangnya seorang laki-laki.

c)       Berdasarkan perhitungan (hisab), dengan ketentuan sebagai berikut:

(1)    Bila bulan tidak nampak maka bulan Sya’ban disempurnakan 30 hari.

(2)    Keterangan dari orang yang dapat di percaya bahwa ia telah melihat bulan.

  1. 2.       Amalan sunat pada bulan Ramadhan

 

Pada bulan Ramadhan, ada amalan-amalan suanat yang baik kita kerjakan, antara lain:

  1. Menyegerakan berbuka puasa jika sudah yakin matahari terbenam atau waktunya telah tiba;
  2. Berbukalah dengan makanan atau minuman yang manis-manis terlebih dahulu;
  3. Membaca do’a sebelum berbuka puasa.
  4. Mengakhirkan makan sahur (menjelang matahari terbit);
  5. Jika ada kelebihan rezeki, sedekahkan kepada orang yang sedang berpuasa atau mengajak mereka untuk buka bersama;
  6. Perbanyak membaca Al-Qur’an (tadarus);
  7. Melaksanakan salat malam (tarawih);
  8. Sempatkan beriktikaf di masjid untuk ibadah.
  1. 3.       Orang yang dibolehkan berbuka puasa.

Berdasarkan keterangan dalam Al-Qur’an dan Hadist, ada beberapa orang yang diperbolehkan berbuka puasa pada bulan Ramadan. Mereka itu mendapat kemudahan (Rukhsah) dari Allah SWT., karena ada sebab-sebab tertentu dalam dirinya. Di antara mereka itu adalah sebagai berikut.

  1. Orang yang sedang sakit.
  2. Orang yang bepergian jauh (musafir), tetapi kepergiannya itu bukan untuk maksiat.
  3. Perempuan yang hamil dan perempuan yang sedang menyusui bayi.
  4. Perempuan yang datang haid (menstruasi)
  5. Orang tua yang sudah pikun atau sudah tidak kuat lagi untuk berpuasa.

Walaupun orang-orang tersebut di atas, boleh tidak puasa pada bulan Ramadhan tetapi bagi mereka diwajibkan mengganti puasa yang di tinggalkan. Penggantian puasa ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara mengqada dan membayar fidyah.

a)      Mengqada puasa

 

Mengqada puasa, artinya mengerjakan puasa pada hari lain di luar bulan Ramadhan sebanyak puasa yang ditinggalkan.

Orang yang wajib mengqada puasa adalah orang yang sedang bepergian jauh (musafir), perempuan yang haid (menstruasi), dan orang sakit.

Seperti firman Allah SWT, yang artinya: “dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. “(Q.S. Al-Baqarah: 185)

Cara mengqada Puasa, yaitu:

1)      Niat mengqada puasa Ramadhan

2)      Dikerjakan boleh kapan saja, asal diluar bulan Ramadhan

b)      Membayar Fidyah

 

Membayar fidyah, artinya memberi makan fakir miskin setiap hari selama tidak puasa pada bulan Ramadhan. Makanan yang diberikan itu berupa makanan pokok. Banyaknya fidyah yang dikeluarkan setiap hari sejumlah ¾ liter beras.

Orang yang wajib membayar fidyah adalah orang tua yang sudah pikun, orang yang sakit berkepanjangan, perempuan hamil, dan perempuan yang sedang menyusui. Perhatikan firman Allah SWT. Dan hadist Rasulullah saw.

Firman Allah SWT. Q.S. Al-Baqarah ayat 184 yang berbunyi:

“Dan wajib atas orang-orang yang sudah payah mengerjakannya (karena lanjut usia) hendaklah membayar fidyah.” (Q.S. Al-Baqarah: 184)

Dalilnya Sabda Rasulullah saw yang bunyinya:

“Sesungguhnya Allah SWT. Telah melepaskan kewajiban dari seseorang musafir, berpuasa dan sebagian salat, dan kepada perempuan yang sedang hamil dan sedang menyusui, Allah telah melepaskan kewajiban puasa atas keduanya,” (H.R. Lima Ahli Hadist)

 

 

Puasa dibulan Ramadhan itu wajib kita laksanakan. Sebab selain kita akan mendapat pahala dan terhindar dari siksa Allah SWT., juga kita mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Allah. Misalnya kita diajari bagaimana caranya menghargai waktu, caranya berdisiplin dan bersikap sabar. Selama berpuasa, waktu kita harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, baik manfaat di dunia maupun di akhirat. Kita tidak boleh menyia-nyikan waktu, sehingga berlalu begitu saja tanpa arti, tanpa memberikan manfaat apa-apa kepada kita. Waktu selama berpuasa harus diisi dengan kegiatan ibadah, belajar, dan bekerja.

Kita juga diajari disiplin ketika berpuasa, kita tidak boleh makan dan minum seenaknya. Melainkan telah diatur oleh allah secara tertib, yaitu kapan kita bolah makan dan minu, dan kapan kita bisa melaksanakan hubungan suami isteri, serta kapan pula kita harus menahan diri dari semua kegiatan itu. kesabaran juga ditanamkan pada seorang yang berpuasa, agar mampu menahan godaan dan cobaan. Sebab, hakikat berpuasa adalah berjuang melawan hawa nafsu, dan perjuangan itu memerluakan pengorbanan dan kesabaran.

Seorang pejuang yang tidak memiliki kesabaran yang kuat, dan jiwa pengorbanan yang tulus tidak akan keluar sebagai pahlawan. Begitu puala dengan orang yang berpuasa, jika tidak disertai dengan kesabaran dan pengorbanan yang tulus maka puasanya akan batal dan pahalanya akan hilang.