Tags

(QS al-Hujurat [49]: 10)

Tadabur Ayat QS. Al Hujurat: 10-13

 

TUJUAN

  • ·
Murid  memahami hak-hak muslim terhadap saudaranya yang muslim
  • ·
Murid mengetahui hal-hal yang dapat merusak persaudaraan
  • ·
Murid memahami makna su’uzhon, ghibah, dan namimah
  • ·
Murid memahami pentingnya persaudaraan dalam masyarakat

RINCIAN BAHASAN

  • · “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.” (QS.Al-Hujuraat: 10)

· “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.Al-Hujuraat: 11)
· “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-Hujuraat: 12)
· “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.Al-Hujuraat:13)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.” (QS.Al-Hujuraat: 10)

Hadits : Qs Al-hujurat: 10

Ibnu Abbas r.a. berkata Rasulullah saw. Bersabda, “seandainya aku mengambil kekasih dari uamt ini niscaya aku ambil Abu Bakar, tetapi persaudaraan islam itu lebih utama atau lebih baik mak  beliau mengucapkan yang demikian ini karena beliau menempatkan atau menetapkan Abu Bakar sebagai ayah (mertua). Tutuplah dariku setiap pintu di mesjid ini, kecuali pintu Abu Bakar.” (HR. Bukhari_259)

Dalam ayat 11 dan 12 Allah SWT menjelaskan bagaimana sebaiknya pergaulan di antara orang-orang beriman. Di dalamnya terdapat hal-hal yang diperingatkan Allah agar kaum beriman menjauhinya karena dapat merusak persaudaraan di antara mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.Al-Hujuraat: 11)

Diriwayatkan bahwa ayat 11 ini diturunkan berkenaan dengan tingkah laku kabilah Bani Tamim yang pernah berkunjung kepada Rasulullah saw lalu mereka memperolok-olokkan beberapa sahabat yang fakir-miskin, seperti Amar, Suhaib, Bilal, Khabbab, Salman al-Farisi, dll. karena pakaian mereka sangat sederhana.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan hartamu tetapi Ia memandang kepada hati dan perbuatanmu.

Pada ayat ini pula Allah menyebutkan wanita secara khusus sebagai peringatan terhadap kebiasaan tercela kaum wanita dalam bergaul. Terdapat riwayat yang melatarbelakangi turunnya ayat ini ialah berkenaan dengan kisah Shafiyah binti Huyay bin Akhtab yang pernah datang menghadap Rasulullah saw dan melaporkan bahwa beberapa wanita di Madinah pernah menegur dia dengan kata-kata yang menyakitkan hati, seperti: “Hai perempuan Yahudi,Keturunan Yahudi dan sebagainya”, sehingga Nabi saw bersabda kepadanya, “Mengapa tidak engkau jawab saja, ayahku Nabi Harun, pamanku Nabi Musa, dan suamiku adalah Muhammad.

Dalam ayat 11 Allah SWT memperingatkan kaum mukmin supaya jangan saling mengolokkan karena boleh jadi kaum yang diperolok-olokkan pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang mengolok-olokkan dan kaum wanita pun jangan saling mengolokkan karena boleh jadi wanita yang diperolok-olokkan pada sisi Allah lebih baik dari wanita yang mengolok-olokkan.Kemudian Allah SWT melarang kaum mukmin mencela diri mereka sendiri karena mereka bagaikan satu tubuh yang diikat dengan persatuan.

Dilarang pula panggil-memanggil dengan gelar yang buruk seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata : hai fasik,kafir,dsb. Panggilan yang buruk dilarang diucapkan karena gelar-gelar buruk itu dapat mengingatkan kefasikan setelah beriman. Barang siapa tidak bertaubat dari memanggil dengan gelar-gelar buruk maka akan menerima konsekuensi dari Allah berupa azab pada Hari Kiamat.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-Hujuraat: 12)

Diriwayatkan Ibnu Munzdir dan Ibnu Juraij bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Salman Al-Farisi yang makan, kemudian tidur, lalu mendengkur. Orang-orang membicarakannya, maka dari itu, turulah ayat ini yang melarang umat muslim untuk menggunjing dan mengumpat. (Lubbabun Nuqul:182)

Dalam ayat 12 Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman, supaya mereka menjauhkan diri dari su’uzhan / prasangka buruk terhadap orang-orang beriman. Jika mereka mendengar sebuah kalimat yang keluar dari saudaranya yang mukmin maka kalimat itu harus diberi tanggapan dan ditujukan kepada pengertian yang baik, jangan sampai timbul salah paham, apalagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan fitnah dan prasangka. Kemudian Allah SWT menerangkan penyebab wajibnya orang mukmin menjauhkan diri dari prasangka yaitu karena sebagian prasangka itu mengandung dosa.

Allah melarang pula ghibah, namimah, dan mencari-cari aib orang lain. Mengenai definisi ghibah, Rasulullah saw bersabda, “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci. “Si penanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu bila yang diceritakannya itu benar ada padanya? “Rasulullah menjawab, “Kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar engkau berbuat buhtan (dusta).”(HR.Muslim,Tirmizi,Abu Daud, dan Ahmad). Sedangkan namimah dapat dibagi menjadi hamz (mencaci maki) dan lamz (mencela).(QS.Al-Humazah: 1)

Rasulullah mengecam orang yang suka ghibah dan mencari-cari kesalahan orang. Diriwayatkan oleh Abi Barzah al-Islami, sabda Rasulullah saw, “Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya, tetapi iman itu belum masuk juga dalam hatinya, jangan sekali-kali kamu berghibah (bergunjing) terhadap kaum muslimin dan jangan sekali-kali mencari noda atau auratnya. Karena barang siapa mencari-cari noda mereka, maka Allah akan membalas pula dengan membuka noda-nodanya. Dan barang siapa yang diketahui kesalahannya oleh Allah, niscaya Dia akan menodai kehormatannya dalam lingkungan keluarganya sendiri.

Tafsir AT-TABARI Qs: 49:12

Allah swt. Menegaskan, wahai orang-orang yang mempercayai allah swt. Dan rasul-Nya, janganlah kalian berprasangka terhadap sesama orang-orang mukmin dengan menuduh mereka berbuat jahat karena prasangka itu  tidak benar. Alah swt. Berfirman, (Jauhilah banyak dari prasangka), allah swt. Tidak menyebutkan, “jauhilah seluruh prasangka,” karena orang mukmin diperkenankan untuk berbuat sangka yang baik dengan sesama mereka, allah swt, berfirman, (mengapa diwaktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “ini adalah suatu berita bohong yang nyata. (Qs An-Nur, 12)

Allah swt. Memperkenankan orang-orang mukmin berprasangka baik dengan sesama mereka dan mengatakan prasangka baiknya itu sekalipun prasangka mereka itu tidak begitu meyakinkan. Firman-Nya (sesungguhnya sebagian prasangak itu dosa), sesungguhnya prasangka orang mukmin kepada sesama mereka dengan prasangka buruk, dan bukan prasangka baik adalah berdosa karena allah swt. Melarang hal demikian. Melarang apa yang dilarang allah swt. Berarti  suatu perbuatan dosa.

Firman-Nya (Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain). Janganlah kalian membuka aib saudaranya sendiri dan jangan mencari-cari keburukannya dengan itikad membukakan aib saudaranya. Cukuplah bagi kalian apa yang tampak dari perilaku saudaranya itu. (Tafsir At-Tabari jilid XXI, 2001: 373-382)

Tafsir Ibnu Kasir Qs: 49:12

Dalam ayat ini allah swt menegaskan tentang larang kepada hamba-hamba-Nya untuk berburuk sangka. Berburuk sangka, yaitu memberikan tuduhan-tuduhan yang tidak benar keapda saudara ataupun orang lain. Perbuatan ini termasuk dosa. Karena itu, kita harus menghindarinya. Amirul mukminin Umar bin Khathab r.a. berkata, “Janganlah kamu mengeluarkan syak wasangka atas kalimat yang diucapkan saudara seagamamu, kecuali prasangka yang baik”.

Malik meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. “ Bersabda sebagi berikut. “Takutlah kalian akan bertindak buruk sangka karena berburuk sangka itu adalah kebohongan yang besar. Janglah kalian mencari-cari kesalah orang lain, jangan saling curiga, janganlah kalian saling mendengki,jangan kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling membelakangi (bermusuahan). Akan tetapi, jadilah hamba allah swt yang saling bersaudara (mengasihi).” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Firman allah swt, (Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahn orang lain), yaitu larang saling mencurigai satu sama lain. Kata ini sangat indentik dengan konotasi buruk, sepereti memata-matai. Firman allah swt. (Dan jangalah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain) bahwa kaum muslimin dilarang berbuat gibah.

Firaman allah swt, (Dan bertakwalah keapada allah) yaitu bertakwalah kalian atas perintah dan larangan-Nya. seorang mukmin selayaknya mampu mengontrol diri, tunduk dan takut kepada tuhannya. (Al-Misbah Al-munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 1032-1034

Adapun beberapa pengecualian dibolehkannya ghibah adalah sbb:
· Orang yang mazlum (dianiaya) menceritakan keburukan orang yang menzaliminya dalam rangka menuntut haknya.
· Jika bertujuan memberi nasehat pada kaum muslimin tentang agama dan dunia mereka.
· Dilakukan dengan niat baik dan mengharapkan ridha Allah semata.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.Al-Hujuraat:13)

Diriwayatkan  dari Ibnu Halim bahwa ayat ini turun terkait dengan orang-orang yang mencela Bilal ketika dia naik ke ka’bah untuk melantunkan adzan saat pembebasan mekkah. Orang-orang banyak membincangkannya, apakah budak hitam legam ini berani naik dan adzan diatas puncak ka’bah? Sebagian lagi dari mereka berkata, jika allah murka dengan perbuatannya, pasti allah akan melarangnya, kemudian allah menurunak ayat ini. (Lubabun Nuqul: 182)

Pada ayat 13, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan-Nya bermacam-macam bangsa dan suku supaya saling mengenal dan saling menolong dalam kehidupan bermasyarakat. Dan tidak ada kemuliaan seseorang di sisi Allah kecuali dengan ketakwaannya.

Dalam suatu hadits riwayat Abu Hatim yang bersumber dari Ibnu Mulaikah berkenaan turunnya ayat ini ialah bahwa ketika fathu Makkah, Bilal naik ke atas Ka’bah untuk adzan. Beberapa orang berkata, “Apakah pantas budak hitam adzan di atas Ka’bah?”. Maka berkatalah yang lain, “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Allah akan menggantinya. “Maka datanglah malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah saw apa yang mereka ucapkan. Maka turunlah ayat ini yang melarang manusia menyombongkan diri karena kedudukan, pangkat, kekayaan, dan keturunan dan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah dinilai dari derajat ketakwaannya.

Ayat ini juga menyatakan bahwa persaudaraan Islam berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh bangsa, warna kulit, kekayaan dan wilayah melainkan didasari oleh ikatan aqidah. Persaudaraan merupakan pilar masyarakat Islam dan salah satu basis kekuatannya. “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya bagaikan bangunan yang saling mengikat dan menguatkan serta bagaikan jalinan antara jari-jemari.” (HR.Muttafaq’alaih dari Abu Musa r.a.)

Rasulullah saw pernah menganggap persaudaraan antar umat Islam adalah basis yang sangat penting sehingga hal yang dilakukan beliau adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar secara formal satu dengan yang lainnya ketika hijrah ke Madinah.